SOSIAL MEANING MASYARAKAT MELAYU

Muhammad Alfa Rizi
  Assalamu'alaikum warahmatullahhi wabaraakaatu

  Arus globalisasi telah memasuki dunia dan telah mengikis nilai-nilai kebudayaan Melayu yang identik dengan Agama Islam. Banyak nilai-nilai kebudayaan yang sudah terhapuskan oleh perkembangan zaman.





jHasil gambar untuk istana maimun

Kebudayaan  Melayu mengandung nilai-nilai luhur/asasi universal yang berakar dari nilai-nilai luhur/asasi universal yang berakar dari nilai Islam dan adat istiadat masyarakat pendukungnya. Nilai- nilai ini telah berlangsung ribuan tahun dan tetap membentengi anggota masyarakatnya yang berpegang teguh dan menjalankannya secara benar. Apabila anggota masyarakatnya tetap berpegang kepada nilai-nilai ini dalam kehidupan mereka masa kini dan masa depan, mereka akan dipastikan akan selalu selamat atau terhindar dari perbuatan tercela.
Ciri utama dari kemelayuan adalah beragama islam, beradat-istiadat, dan berbahasa Melayu. Dari ciri utama itu dapat disimpulkan bahwa masyarakat Melayu sebagai penganut ajaran islam memiliki nilai-nilai normaratif yang dipegang dan dipedomani. Masyarakat Melayu menjalankan kehidupan senantiasa harus merujuk kepada ketentuan Agama yang menjadi dasar dari segala perbuatan dan perilaku anggota masyarakat.
Dalam hubungan ini budaya Melayu menganut ajaran”Raja alim raja disembah, Raja jalim raja disanggah.” Ini berarti bahwa dalam kehidupan, nilai-nilai luhur, nilai-nilai kebenaran dipegang teguh masyarakat . Tidak terkecuali siapa pun, termasuk penguasa tertinggi (raja). Sekalipun yang melanggar nilai norma itu petinggi harus mendapat sangsi yang setimpal. Bagi yang melakukan kesalahan maka akan menerima resikonya. Dalam kebudayaan Melayu, orang yang melanggar ketentuan adat akan mengalami penderitaan, siksaan batin yang tidak dapat diukur dengan materi. Orang Melayu seharusnya berperilaku seperti para pendahulunya yang selalu mempedomani nilai-nilai agung itu dengan ungkapan Laksamana Hang Tuah, “ Tuan Sakti Hamba Negri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Akan Melayu Hilang Dibumi”. Ungkapan ini terdiri dari empat kalimat. Maksud dari kalimat pertama “Tuan Sakti Hamba Nergri” yaitu menunjukkan bahwa orang Melayu itu adalah orang yang bertuah. Orang yang bertuah berarti memiliki harkat, martabat, maruah, harga diri, kemampuan, keahlian dan sebagainya, sehingga orang melayu itu memiliki kelebihan dan keutamaan yang disebut dengan “ Tuah”. Semua sifat itu bisa tercapai dengan semangat, pantang menyerah yang diungkapkan Hang Tuah pada kalimat yang kedua yaitu “Esa Hilang Dua Terbilang”. Jadi bagi orang Melayu berpantang dengan yang namanya menyerah dan berputus asah. Pantang mundur dalam gelanggang, sekali layar terkembang pantang kota mundur kebelakang. Itulah semangat orang Melayu yang selalu diungkapkan oleh orang tua melalui pantun, syair dan lain sebagainya. Namun demikian, semangat yang besar menurut Hang Tuah belum la cukup. Nilai-nilai mulia yang dimiliki oleh orang Melayu haruslah diturunkan ke anak cucu maka Hang Tuah melanjutkan ungkapannya pada kalimat yang ketiga yaitu “Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Maka dari itu la semua nilai-nilai budi pekerti yang luhur, nilai-nilai kepahlawanan harus diturunkan dari generasi kegenerasi berikutnya. Jika semuanya sudah berjalan dengan baik maka harapan Hang Tuah dan mungkin harapan kita semua pada kalimat keempat yaitu “Tak Akan Melayu Hilang Dibumi” akan tercapai.
Masyarakat Melayu pada umumnya menganut nilai-nilai sebagai insan berbudaya dan beradap. Nilai itu berlaku seantero muka bumi ( universal ), diantaranya terungkap dari petuah para pendahulu seperti tertera pada buku Tunjuk Ajar karangan Tenas Effendi  (1994), yaitu:
1.      Mengutamakan budi sebagaimana tertera dalam ungkapan:
         Apa tanda Melayu jati
        Mati Melayu karena budi

       Apa tanda Melayu jati
       Bertanam budi sebelum mati
      Termakan budi ianya mati
2.      Memiliki sifat malu sebagaimana tertera dalam ungkapan:
        Apa tanda Melayu jati
        Malu berbuat yang tidak terpuji
        Apa tanda Melayu jati
        Memelihara malu sepenuh hati

        Apa tanda Melayu jati
        Malu bersifat dengki mendengki
        Malu bersifat iri mengiri
        Malu bersifat khianat mengkhianati
        Malu bersifat caci mencaci
        Malu menyombong berbesar hati
        Malu mungkir menyalahi janji

        Apa tanda Melayu bertuah
        Malu hidup melanggar sumpah
        Malu sanggah menyanggah

        Apa tanda Melayu amanah
        Hidup mati membawa petuah
        Malu bekerja tidak menyudah
3.      Memiliki keberanian sebagaimana tertera dalam ungkapan:
        Apa tanda Melayu jati
        Dijalan Allah berani mati


        Apa tanda Melayu jati
        Menegakkan keadilan berani mati
        Apa tanda melayu jati
        Lupakan hak lupakan mati

         Apa tanda Melayu jati
        Membela negeri sampai mati

         Apa tanda Melayu jati
         Pada yang benar tempatnya mati
      
         Apa  tanda Melayu bermarwah
        Membela bangsa menyabung nyawa

        Apa tanda Melayu bertuah
        Berani mati membela marwah
        Apa tanda Melayu berani
        Mengelakkan musuh pantang sekali

        Apa tanda Melayu bandal
        Membela yang hak tahan dipenggal
        Apa tanda Melayu beradat
        Berani bercakap berani berbuat

        Apa tanda Melayu beradat
        Membela yang hak tahan dikerat
4.      Memiliki kejujuran sebagaimana tertera dalam ungkapan:
        Apa tanda Melayu jati
        Lurus dan jujur sampai kehati

         Apa tanda Melayu jati
        Jujurnya tidak berbelah hati

         Apa tanda Melayu jati
        Hidupnya jujur sampailah mati
5.      Memiliki sifat hemat dan cermat sebagaimana tertera dalam ungkapan:
       Siapa hemat mendapat
       Siapa cermat mendapat

      Orang hemat takkan melarat
      Orang cermat takkan tersesat

      Apa tanda Melayu jati
      Hemat cermat pakaian diri

      Apa tanda Melayu jati
     Hemat cermat memelihara budi
               Adat Melayu mengandung nilai filosofis yang fundamental, nilai instumental, serta nilai praktis yang teraktual dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Kondisi masyarakat kita yang sekarang sebagian besar sudah tidak peduli lagi dengan KKN, karena memandang KKN sudah menjadi budaya masyarakat. KKN seperti lingkaran setan yang sulit untuk dibersihkan  dan diberantas. Dari mana akan memulai berantasnya sulit dilakukan. Namun sebagai masyarakat yang peduli tentang masalah itu perlu dianalisis dari berbagai dimensi, sehingga hasilnya akan menemukan sesuatu”benang merah”. Analisis itu dimulai dari apa sebab, bagaimana prosesnya, dan jalan apa yang perlu di tempuh untuk mengatasinya?
Dari dimensi historis dan yudiris masyarakat kita sangat terikat dengan petuah orang tua-tua, tradisi dan adat guna terwujudnya masyarakat tertib, aman, damai, dan harmonis, terwujud landasan tegaknya hukum, serta keadilan dan kebenaran. Pada waktunya mereka menetapkan peraturan seperti UU Melaka, UU Lima Pasal Riau, Babul Quwaid dari siak, adat, tradisi, dan peraturan serta ketentuan ini dibuat untuk untuk terhindarnya masyarakat dari perilaku KKN. Namun berbagai gejala menunjukkan kecenderungan  meningkatnya gejala menyimpang ini. Oknum-oknum tertentu dari masyarakat kita sudah tidak lagi memegang teguh nilai-nilai adat.
            Pada masyarakat Melayu sebenarnya nilai luhur itu sudah mewaris dan bergulir dari dahulu sampai kini. Hanya dominasi ajaran materialisme  sudah mulai melekat pada diri anggota masyarakat. Ini berarti nilai adat yang bersendikan syarak sudah tidak lagi membentengi mereka. Jika kodisi ini cenderung berkembang, maka akibatnya tentu akan fatal kepada kelanjutan masyarakat Melayu yang penuh dengan nilai-nilai luhur. Kemelayuan bertolak belakang dengan apa adanya kini atau bertentangan kondisi diisinya menerut nilai-nilai luhur masyarakat melayu khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya.
            Budi, rasa malu, jujur, berani, hemat dan cermat merupakan nilai-nilai intrinsik, rohaniah Melayu yang telah diturunkan para pendahulu kepada penerusnya. Moderninasi dengan budaya materialis yang sudah melanda sampai ke negeri melayu dan sistem penyelenggaraan negara di daerah yang kurang mendukung, telah berdampak bagi kehidupan sebagian masyarakat  Melayu. Akibatnya tidak sedikit dari mereka yang meninggalkan nilai-nilai asasi itu.
            Dominasari materialisme semakin menjalar dan mulai menampak gejala sebagai dampak negatifnya. Kondisi aktualnya bahwa nilai rokhaniah yang luhur itu telah berubah menjadi materialis  dan makin lebih menonjol. Masyarakat Melayu sepertinya mulai terbawa arus budaya modern sehingga berbagai gejal-gejala negatif membuat kondisinya sangat memprihatinkan.
            Masyarakat masa depan adalah masyarakat yang senantiasa terhindar dari gejala-gejala bertentangan dengan nilai luhur yang ada. Karena itu, kepemimpinan dalam masyarakat Melayu sangat menentukan kelangsungan hidup dunia dan akhirat. Jika hal itu diteladani dan diterapkan manusia masa kini dan diteruskan di masa depan, kita akan terhindar dari perilaku tercela. Kita sama-sama mencita-citakan masyarakat madani yang sesuai dengan keperluan masyarakat modern.
            Nilai kepemimpinan Melayu sebagaimana disinggung Tenas Effendy (2000) antara lain memuat ciri-ciri pemimpin, kepribadian, pantang larang dan sebagainya. Pemimpin bagi masyarakat Melayu adalah orang yang dituakan kaum dan bangsanya. Sementara  tentang kedudukan, fungsi, dan tanggung jawab pemimpin tercermin dalam ungkapan:
Bagaikan kayu besar di tengah padang
Rimbun daunnya tempat berteduh
Kuat dahannya tempat bergantung
Kukuh batangnya tempat bersandar
Besar akarnya tempat bersil
Acuan ini dipegang teguh masyarakat Melayu yang turun-temurun dalam menilai pemimpinnya. Dalam masyarakat Melayu kepribadian pemimpin sangat diteladani umatnya. Cici-ciri kepribadian pemimpin seperti tertuang pada ungkapan:
Bercakap lurus berkata benar
Tahu menimbang bijak menakar
Ramah kepada kecil dan besar
Pantang sekali berlaku kasar
            Menurut jenisnya dalam masyarakat Melayu ada berbagai macam pemimpin seperti pemimpin abdi, adat, pemimpin adil, dan pemimpin agung. Sebaliknya ada juga pemimpin buruk seperti pemimpin agak, pemimpin agul, dan pemimpin aib.
            Jika dirujuk kepada sifat positif pemimpin Melayu akan selamatlah masyarakatnya dimasa depan. Sebaliknya jika sifat negatif  yang muncul dan dominan, maka masyarakat akan terjerumus kepada kondisi yang berbahaya. Bisa jadi masyarakat akan terpecah-belah dan kerukunan semakin jauh dari keinginan yang ideal. Oleh karena itu,masyarakat harus mempedomani nilai-nilai luhur sosial budaya Melayu jika ingin selamat dan sejahtera.




SUMBER

Basyarsyah, lukman sinar.2005.adat budaya Melayu jati diri dan kepribadian. sumut:Forkala
 


 angahalfa.blogspot.com

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikayat Si Miskin atau Hikayat Marakarma ( R.O Winstedt, 1922a: 41-45)

Hikayat Langlang Buana

Hikayat Parang Punting